Jumat, 04 Maret 2016



CARAMEL LATTE
-Niken Indah Wardani-

Seperti biasa ku aduk racikan kopi spesialku beraroma wangi seperti namaku. Di kedai kopi ini pertama pertemuan kau dan aku di iringi guntur dan hujan yang turun terus menerus tanpa lelah.
“Kringggg” Suara lonceng menandakan adanya pelanggan yang baru datang. Tatapan ku langsung tertuju pada seorang lelaki tinggi manis sedang mengibaskan rambutnya yang basah oleh hujan. Lelaki itu duduk pada sebuah bangku di dekat pintu masuk yang langsung bertatapan dengan kaca transparan besar yang  membatasi dirinya dengan hujan.. Tak lama dia pun mengangkat sebelah tangannya untuk mengorder pesanan, aku yang sedari tadi terpana melihatnya terbangun dari lamunanku dan segera menghampirinya sambil memberikan daftar menu padanya, sesekali mataku tak dapat di kontrol dan terus menatapnya diam-diam.
“Disini yang spesial apa ya mba?”tuturnya sopan dan hangat membuatku membatu di hadapnya.
“A..iya disini yang spesial ada hot chocolate,hot mint latte,hot caramel latte dan....” Belum sempat ku menyelesaikan ucapanku dia tib-tiba memotong.
 “ Iya itu aja mbak hot caramel latte satu “ jawabnya yakin .
” Iya di tunggu sebentar ya mas” Jawabku padanya sambil beranjak pergi untuk meracikan pesanan nya secara spesial. Tak lama ku antarkan pesanan lelaki manis itu secangkir hot caramel latte  yang spesial, dia menyeruput kopi itu dengan tenang dan mempesona , aaaa apapun itu mungkinkah aku jatuh hati pada seseorang pria yang baru sekali ku lihat. Sepanjang dia duduk di kursi dengan secangkir kopi racikanku di hadapannya,aku sesekali mencuri pandang sambil terus melayani pelanggan lain. Sesaat hujan di luar mulai sedikit tenang terlihat dari tetesan hujan yang turun rintik saja, melihat hal itu lelaki itu pergi dari kedaiku dan meninggalkan sesuatu disini,dihatiku.
            Keesokan harinya seperti biasa aku pergi ke kedai kopi untuk bekerja. Aroma wangi kopi menggoda untuk segera di racik menjadi minuman spesial. Hari tu pelanggan lumayan banyak dan di antara pelanggan itu terlihat seseorang yang tidak asing, ku sipitkan mataku dan  “ itu dia” teriakku tiba-tiba sampai-sampai tito berceloteh “ siapa ngi?” selidiknya  padaku “ ah bukan siapa-siapa” jawabku sambil terus menelisik ke arah lelaki itu. Tak lama lelaki itu mengacungkan tangannya mengorder pesanan , aku menghampirinya dan meletakkan daftar menu seperti biasa , tapi dia langsung menceletuk
Hot caramel latte  satu mbak “ Ucapnya dengan suara khasnya yang membuatku klepek-klepek kaya ikan yang keluar dari air.
“ Iya mas” jawabku sambil senyum manis.
            Sejak hari itu dia terus dan terus datang ke kedai kopi tempatku bekerja dan selalu saja memesan Hot caramel latte entah kenapa dia terus memesan itu dari puluhan jenis kopi yang ku tawarkan , kenapa dia  selau memesan kopi pertama yang buatkan untuknya apakah dia ? ah mustahil.
            Suatu hari saat aku berangkat ketempat kerja tiba-tiba hujan lebat , aku yang tak membawa apa-apa untuk melindungi tubuhku dari brondongan air hujan yang menyerangku pastilah membuat tubuhku basah tak karuan . Kulihat sekeliling dan terihat sebuah halte bus  beratap yang bisa ku jadikan tempat berteduh, tak menunggu aba-aba aku langsung melesat ke tempat itu dengan berlari sekencang mungkin dan cerobohnya aku tepat di bibir halte aku terjatuh dan lututku terantuk batu dan terluka,  maklum saat itu akau sudah pakai seragam kerjaku yaitu pakaian lengan pendek dan rok hitam di atas lutut.
“Aduh” Jeritku sambil melihat lututku yang mulai mengeluarkan darah segar.
“Mbak nggak papa? “ Seorang lelaki tiba-tiba bersuara dan mengulurkan tangannya . Tanpa basa-basi ku raih tangannya dan saat ku menoleh kearahnya ternyata dia Mr.caramel latte sebutan ku untuk pria yang selalu datang ke kedai ku ini.
“Ah iya makasih mas”Jawabku sambil melihat lutut ku yang terus mengeluarkan darah.
“sama-sama, Mbak Wangi “ ujarnya sopan dan ramah.
“Kok mas tau nama saya? “ Dengan wajah bloon aku bertanya.
“ Itu , nemtek mba ada tulisannya Wangi “ Dia menunjuk nemtek bertulisakan namaku
“Itu kaki nya luka kebetulan saya bawa obat merah dan plester luka , sini saya obati “ sambil mengambil sesuatu di tasnya lalu dengan sopan meraih kakiku dan mengobatinya dengan halus “ Selesai “ Celetuknya tiba-tiba.
“Makasih Mas....? “ kalimatku menggantung.
 “ Mas Rizal” Jawabnya  sambil tersenyum manis.
“Makasih Mas Rizal” jawabku tersenyum padanya.
            Hujan masih saja turun dengan begitu deras tanpa lelah menghujani bumi. Aku yang kebasahan mulai kedinginan dan menggigil. Tapi tiba-tiba sebuah jaket melingkar di tubuhku “ Ini pakai saja “ Suara rizal menyeruak
“Tapi ?” Jawabku tak enak.
“ Gak papa pakai aja daripada kamu kedinginan” ucapnya sambil tersenyum kecil.
            Dalam hujan kami banyak berbincang apapun bisa jadi topik pembicaraan , tak tau kenapa aku langsung klik dan nyambung dengan orang ini bicaranya sopan dan halus membuatku merasa nyaman di dekatnya sampai-sampai aku berharap hujan takkan pernah berhenti.Pembicaraan ini terus berlangsung dengan menyenangkan. Tapi sepertinya hujan mulai lelah menurunkan tetesan airnya, lambat laun hujan berhenti dan menutup percakapan kami.
“ Eh sudah reda” ucap Rizal sambil menadahkan tangannya memastikan hujan benar berhenti.
“Iya nih,  ya udah ya Zal, aku pulang dulu “ Ucapku padanya sambil mengembalikan jaketnya yang ku pakai.
“Iya, jangan balik ke kedai ya tuh lihat badanmu udah menggigil” jawabnya sambil memasang wajah yang super manis.
“ Oke , senang bisa kenal kamu zal “ ucapku padanya.
Sesaat sebelum aku beranjak pergi Rizal memanggilku tiba-tiba dan meminta nomer hp ku , yaaa  tanpa berpikir panjang ku teriakkan satu persatu nomer hp ku padanya.
 Thanks Nice too meet you” Ujarnya sambil tersenyum lebar.
“ Iya” Jawabku sambil beranjak pergi menjauh.
            Sejak hari itu kami dekat, tambah dekat dan semakin dekat hampir dua tahun sudah sejak perkenalan kami hari itu waktu memang terasa begitu cepat. Sekarang dia kuanggap sebagai sosok spesial dalam hidupku, sepertinya tak ada hari tanpa dia datang  ke kedaiku entah hanya menyapa atau sengaja untuk menyeruput secangkir Caramel Latte kesukaannya.
            Rasanya tak ada lagi alasan untukku tak menyukainya dia sudah jadi yang spesial di hatiku , tapi tak tau apa begitu sebaliknya?
Suatu saat dia tak datang ke kedai kopiku sampai seminggu lamanya.Telpon atau sms tak pernah di responnya, kenapa dia? Kemana dia?  banyak kata yang berputar di pikiranku. Tapi semakin aku berfikir semakin jawaban tak kutemukan. Akupun menyakinkan hatiku untuk pergi ke kos nya tak jauh dari kedai kopiku. Aku ingat sekali dia mengajakku ke kosannya saat dia lupa membawa dompet saat kami akan nonton di bioskop.
Tapi jawaban yang kudapat yaitu dia sudah pulang kampung dan berhenti kos di situ. Dengan rasa pilu aku beranjak pergi .
Seminggu,Sebulan dan akhirnya setahun berlalu tanpa hadirnya , aku terus bertanya kenapa dia tiba-tiba pergi , apa aku telah melakukan kesaahan yang fatal? . Tiba-tiba lamunan ku buyar karena suara ponsel ku tiba-tiba berdering  Unknown Number??
“Halo” aku mengangkart telpon itu dengan tenang.
“ Halo apa ini Wangi? “ Suara berat seorang lelaki terdengar.
“Iya benar ini siapa ya ? “ Tanyaku heran.
 “Ah iya saya Galang teman Rizal” ucapnya sedikit bergetar.
Seketika aku terhenyak dan tak percaya nama siapa yang baru ku dengar, Aku terdiam.
 “ Ah iya, apa kita bisa bertemu ?” ucap seseorang yang terabaikan di telponku .
“Ada apa ya mas ? “ Tanyaku semakin membuncah.
“ Saya ada yang perlu di bicarakan tentang Rizal “ Suaranya menurun saat menyebut  nama Rizal.
“ Oke kita ketemu di kedai ilalang , jam 3 sore “ jawabku cepat.
” Oh iya saya tau tempat itu , besok jam 3 sore mba wangi “ jawabnya pendek.
 “ oh iya iya” jawabku singkat.
Keesokan harinya tepat di kafe ilalang seorang pria datang dan duduk di sebuah meja di sudut kafe , aku pun menghampirinya.
“ Mas Galang ? “ ucapku.
“ Iya ini mba Wangi ya “ Jawabnya sambil tersenyum mempersilahkan aku duduk.
 “ Gini,Mbak saya langsung saja ada pesan dari Rizal untuk mbak Wangi “ Ujarnya sambil mengeluarkan  sebuah amplop berwarna krim dan memberikannya padaku.
” Apa ini?” Tanyaku bingung.
” Ini pesan terakhir Rizal buat mbak Wangi “ Jawabnya terbata-bata.
“ Pesan terakhir apa maksudnya ? “ Tanyaku dengan nada yang meninggi dan tercekat.
 “ Iya,mbak sebenarnya Rizal sudah meninggal 8 bulan yang lalu mbak “ Ucapnya sambil setetes air mata tiba-tiba meluncur begitu saja dari matanya. Aku terdiam dan air mataku mengalir begitu saja membasahi pipiku tanpa bisa kukendalikan, Galang yang sedari tadi berada disisiku menjelaskan segalanya. Sebenarnyal Rizal itu sakit leukimia telah lama tapi setahun belakangan ini dia semakin parah dan memutuskan berobat di kampung halamanya dekat kedua orang tuanya. Dia berusaha melawan penyakitnya tapi dia tak dapat bertahan dan pergi 8 bulan yang lalu. Tangisku semakin menjadi dengan sisa tenaga ku buka surat yang di berikan Galang padaku dan isinya
“ HAI WANGI, mungkin sekarang hampir setahun aku pergi meninggalkan dunia ini dan sekarang pasti kamu sedang menangis ya ? . Sudah jangan sedih lagi ya.. Maaf,aku tak bisa bertahan tapi setidaknya sebelum kepergianku aku bahagia karena bisa mengenalmu, dekat denganmu, dan mencintaimu. Wangi jangan sedih terus hapus air matamu dan hiduplah dengan baik aku dari tempat yang berbeda akan selalu berharap yang terbaik untukmu.”
                                                            Dari Mr.Caramel Lattemu-Rizal
Saat kubaca surat itu air mataku seperti tak pernah habis membasahi pipiku deras dan semakin deras ku rasa.
“Sabar Mbak wangi, Rizal sudah bahagia disana” Ujar Galang yang berusaha menenangkanku padahal ku tau dia mencoba tegar di depanku.
“ Mas Galang saya ingin pergi ke pusara Rizal” Ucapku Terbata dan sesegukan.
“ Iya mba besok saya antar” Jawab Galang sementara diriku hanya bisa terdiam dan  linglung.
Keesokan harinya, Hari itu hari gelap matahari di sembunyikan awan hitam di iringi simfoni kilat berganti guntur membasahi diriku yang duduk di samping dirimu yang tak bersuara. Ku taruh setangkai mawar putih di sandaran batu bertulis namamu. Aku bersyukur mengenalmu, dekat denganmu dan mencintaimu kaulah Caramel Latte kesukaanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar