CARAMEL LATTE
-Niken Indah
Wardani-
Seperti
biasa ku aduk racikan kopi spesialku beraroma wangi seperti namaku. Di kedai
kopi ini pertama pertemuan kau dan aku di iringi guntur dan hujan yang turun
terus menerus tanpa lelah.
“Kringggg”
Suara lonceng menandakan adanya pelanggan yang baru datang. Tatapan ku langsung
tertuju pada seorang lelaki tinggi manis sedang mengibaskan rambutnya yang
basah oleh hujan. Lelaki itu duduk pada sebuah bangku di dekat pintu masuk yang
langsung bertatapan dengan kaca transparan besar yang membatasi dirinya dengan hujan.. Tak lama dia
pun mengangkat sebelah tangannya untuk mengorder pesanan, aku yang sedari tadi
terpana melihatnya terbangun dari lamunanku dan segera menghampirinya sambil
memberikan daftar menu padanya, sesekali mataku tak dapat di kontrol dan terus
menatapnya diam-diam.
“Disini
yang spesial apa ya mba?”tuturnya sopan dan hangat membuatku membatu di
hadapnya.
“A..iya
disini yang spesial ada hot chocolate,hot
mint latte,hot caramel latte dan....” Belum sempat ku menyelesaikan
ucapanku dia tib-tiba memotong.
“ Iya itu aja mbak hot caramel latte satu “ jawabnya yakin .
”
Iya di tunggu sebentar ya mas” Jawabku padanya sambil beranjak pergi untuk
meracikan pesanan nya secara spesial. Tak lama ku antarkan pesanan lelaki manis
itu secangkir hot caramel latte yang spesial, dia menyeruput kopi itu dengan
tenang dan mempesona , aaaa apapun itu mungkinkah aku jatuh hati pada seseorang
pria yang baru sekali ku lihat. Sepanjang dia duduk di kursi dengan secangkir
kopi racikanku di hadapannya,aku sesekali mencuri pandang sambil terus melayani
pelanggan lain. Sesaat hujan di luar mulai sedikit tenang terlihat dari tetesan
hujan yang turun rintik saja, melihat hal itu lelaki itu pergi dari kedaiku dan
meninggalkan sesuatu disini,dihatiku.
Keesokan harinya seperti biasa aku
pergi ke kedai kopi untuk bekerja. Aroma wangi kopi menggoda untuk segera di
racik menjadi minuman spesial. Hari tu pelanggan lumayan banyak dan di antara
pelanggan itu terlihat seseorang yang tidak asing, ku sipitkan mataku dan “ itu dia” teriakku tiba-tiba sampai-sampai
tito berceloteh “ siapa ngi?” selidiknya
padaku “ ah bukan siapa-siapa” jawabku sambil terus menelisik ke arah
lelaki itu. Tak lama lelaki itu mengacungkan tangannya mengorder pesanan , aku
menghampirinya dan meletakkan daftar menu seperti biasa , tapi dia langsung
menceletuk
“
Hot caramel latte satu mbak “ Ucapnya dengan suara khasnya yang
membuatku klepek-klepek kaya ikan yang keluar dari air.
“
Iya mas” jawabku sambil senyum manis.
Sejak hari itu dia terus dan terus
datang ke kedai kopi tempatku bekerja dan selalu saja memesan Hot caramel latte entah kenapa dia terus
memesan itu dari puluhan jenis kopi yang ku tawarkan , kenapa dia selau memesan kopi pertama yang buatkan
untuknya apakah dia ? ah mustahil.
Suatu hari saat aku berangkat
ketempat kerja tiba-tiba hujan lebat , aku yang tak membawa apa-apa untuk
melindungi tubuhku dari brondongan air hujan yang menyerangku pastilah membuat
tubuhku basah tak karuan . Kulihat sekeliling dan terihat sebuah halte bus beratap yang bisa ku jadikan tempat berteduh,
tak menunggu aba-aba aku langsung melesat ke tempat itu dengan berlari
sekencang mungkin dan cerobohnya aku tepat di bibir halte aku terjatuh dan
lututku terantuk batu dan terluka, maklum saat itu akau sudah pakai seragam
kerjaku yaitu pakaian lengan pendek dan rok hitam di atas lutut.
“Aduh”
Jeritku sambil melihat lututku yang mulai mengeluarkan darah segar.
“Mbak
nggak papa? “ Seorang lelaki tiba-tiba bersuara dan mengulurkan tangannya .
Tanpa basa-basi ku raih tangannya dan saat ku menoleh kearahnya ternyata dia
Mr.caramel latte sebutan ku untuk pria yang selalu datang ke kedai ku ini.
“Ah
iya makasih mas”Jawabku sambil melihat lutut ku yang terus mengeluarkan darah.
“sama-sama,
Mbak Wangi “ ujarnya sopan dan ramah.
“Kok
mas tau nama saya? “ Dengan wajah bloon aku bertanya.
“
Itu , nemtek mba ada tulisannya Wangi “ Dia menunjuk nemtek bertulisakan namaku
“Itu
kaki nya luka kebetulan saya bawa obat merah dan plester luka , sini saya obati
“ sambil mengambil sesuatu di tasnya lalu dengan sopan meraih kakiku dan
mengobatinya dengan halus “ Selesai “ Celetuknya tiba-tiba.
“Makasih
Mas....? “ kalimatku menggantung.
“ Mas Rizal” Jawabnya sambil tersenyum manis.
“Makasih
Mas Rizal” jawabku tersenyum padanya.
Hujan masih saja turun dengan begitu
deras tanpa lelah menghujani bumi. Aku yang kebasahan mulai kedinginan dan
menggigil. Tapi tiba-tiba sebuah jaket melingkar di tubuhku “ Ini pakai saja “
Suara rizal menyeruak
“Tapi
?” Jawabku tak enak.
“
Gak papa pakai aja daripada kamu kedinginan” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Dalam hujan kami banyak berbincang
apapun bisa jadi topik pembicaraan , tak tau kenapa aku langsung klik dan
nyambung dengan orang ini bicaranya sopan dan halus membuatku merasa nyaman di
dekatnya sampai-sampai aku berharap hujan takkan pernah berhenti.Pembicaraan
ini terus berlangsung dengan menyenangkan. Tapi sepertinya hujan mulai lelah
menurunkan tetesan airnya, lambat laun hujan berhenti dan menutup percakapan kami.
“
Eh sudah reda” ucap Rizal sambil menadahkan tangannya memastikan hujan benar
berhenti.
“Iya
nih, ya udah ya Zal, aku pulang dulu “
Ucapku padanya sambil mengembalikan jaketnya yang ku pakai.
“Iya,
jangan balik ke kedai ya tuh lihat badanmu udah menggigil” jawabnya sambil
memasang wajah yang super manis.
“
Oke , senang bisa kenal kamu zal “ ucapku padanya.
Sesaat
sebelum aku beranjak pergi Rizal memanggilku tiba-tiba dan meminta nomer hp ku
, yaaa tanpa berpikir panjang ku
teriakkan satu persatu nomer hp ku padanya.
“ Thanks
Nice too meet you” Ujarnya sambil tersenyum lebar.
“
Iya” Jawabku sambil beranjak pergi menjauh.
Sejak hari itu kami dekat, tambah
dekat dan semakin dekat hampir dua tahun sudah sejak perkenalan kami hari itu
waktu memang terasa begitu cepat. Sekarang dia kuanggap sebagai sosok spesial
dalam hidupku, sepertinya tak ada hari tanpa dia datang ke kedaiku entah hanya menyapa atau sengaja
untuk menyeruput secangkir Caramel Latte kesukaannya.
Rasanya tak ada lagi alasan untukku
tak menyukainya dia sudah jadi yang spesial di hatiku , tapi tak tau apa begitu
sebaliknya?
Suatu
saat dia tak datang ke kedai kopiku sampai seminggu lamanya.Telpon atau sms tak
pernah di responnya, kenapa dia? Kemana dia?
banyak kata yang berputar di pikiranku. Tapi semakin aku berfikir
semakin jawaban tak kutemukan. Akupun menyakinkan hatiku untuk pergi ke kos nya
tak jauh dari kedai kopiku. Aku ingat sekali dia mengajakku ke kosannya saat
dia lupa membawa dompet saat kami akan nonton di bioskop.
Tapi
jawaban yang kudapat yaitu dia sudah pulang kampung dan berhenti kos di situ.
Dengan rasa pilu aku beranjak pergi .
Seminggu,Sebulan
dan akhirnya setahun berlalu tanpa hadirnya , aku terus bertanya kenapa dia
tiba-tiba pergi , apa aku telah melakukan kesaahan yang fatal? . Tiba-tiba
lamunan ku buyar karena suara ponsel ku tiba-tiba berdering Unknown
Number??
“Halo”
aku mengangkart telpon itu dengan tenang.
“
Halo apa ini Wangi? “ Suara berat seorang lelaki terdengar.
“Iya
benar ini siapa ya ? “ Tanyaku heran.
“Ah iya saya Galang teman Rizal” ucapnya
sedikit bergetar.
Seketika
aku terhenyak dan tak percaya nama siapa yang baru ku dengar, Aku terdiam.
“ Ah iya, apa kita bisa bertemu ?” ucap
seseorang yang terabaikan di telponku .
“Ada
apa ya mas ? “ Tanyaku semakin membuncah.
“
Saya ada yang perlu di bicarakan tentang Rizal “ Suaranya menurun saat
menyebut nama Rizal.
“
Oke kita ketemu di kedai ilalang , jam 3 sore “ jawabku cepat.
”
Oh iya saya tau tempat itu , besok jam 3 sore mba wangi “ jawabnya pendek.
“ oh iya iya” jawabku singkat.
Keesokan
harinya tepat di kafe ilalang seorang pria datang dan duduk di sebuah meja di
sudut kafe , aku pun menghampirinya.
“
Mas Galang ? “ ucapku.
“
Iya ini mba Wangi ya “ Jawabnya sambil tersenyum mempersilahkan aku duduk.
“ Gini,Mbak saya langsung saja ada pesan dari
Rizal untuk mbak Wangi “ Ujarnya sambil mengeluarkan sebuah amplop berwarna krim dan memberikannya
padaku.
”
Apa ini?” Tanyaku bingung.
”
Ini pesan terakhir Rizal buat mbak Wangi “ Jawabnya terbata-bata.
“
Pesan terakhir apa maksudnya ? “ Tanyaku dengan nada yang meninggi dan
tercekat.
“ Iya,mbak sebenarnya Rizal sudah meninggal 8
bulan yang lalu mbak “ Ucapnya sambil setetes air mata tiba-tiba meluncur
begitu saja dari matanya. Aku terdiam dan air mataku mengalir begitu saja
membasahi pipiku tanpa bisa kukendalikan, Galang yang sedari tadi berada
disisiku menjelaskan segalanya. Sebenarnyal Rizal itu sakit leukimia telah lama
tapi setahun belakangan ini dia semakin parah dan memutuskan berobat di kampung
halamanya dekat kedua orang tuanya. Dia berusaha melawan penyakitnya tapi dia
tak dapat bertahan dan pergi 8 bulan yang lalu. Tangisku semakin menjadi dengan
sisa tenaga ku buka surat yang di berikan Galang padaku dan isinya
“ HAI WANGI, mungkin
sekarang hampir setahun aku pergi meninggalkan dunia ini dan sekarang pasti
kamu sedang menangis ya ? . Sudah jangan sedih lagi ya.. Maaf,aku tak bisa
bertahan tapi setidaknya sebelum kepergianku aku bahagia karena bisa
mengenalmu, dekat denganmu, dan mencintaimu. Wangi jangan sedih terus hapus air
matamu dan hiduplah dengan baik aku dari tempat yang berbeda akan selalu
berharap yang terbaik untukmu.”
Dari
Mr.Caramel Lattemu-Rizal
Saat
kubaca surat itu air mataku seperti tak pernah habis membasahi pipiku deras dan
semakin deras ku rasa.
“Sabar
Mbak wangi, Rizal sudah bahagia disana” Ujar Galang yang berusaha menenangkanku
padahal ku tau dia mencoba tegar di depanku.
“
Mas Galang saya ingin pergi ke pusara Rizal” Ucapku Terbata dan sesegukan.
“ Iya mba besok saya antar” Jawab Galang
sementara diriku hanya bisa terdiam dan
linglung.
Keesokan
harinya, Hari itu hari gelap matahari di sembunyikan awan hitam di iringi
simfoni kilat berganti guntur membasahi diriku yang duduk di samping dirimu
yang tak bersuara. Ku taruh setangkai mawar putih di sandaran batu bertulis
namamu. Aku bersyukur mengenalmu, dekat denganmu dan mencintaimu kaulah Caramel
Latte kesukaanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar